Pindah ke rumah tua | Dok. Majalah
Bobo / Joko Rudi memasuki rumah tua yang dipenuhi kardus-kardus itu.
Rumah itu sering didatanginya pada saat liburan. Kali ini, rumah tua itu
akan menjadi tempat tinggalnya. Ya, Rudi dan keluarganya akan pindah ke
rumah ini. “Letakkan di kamar kedua di sebelah kanan, ya,” terdengar
suara Bu Dini, ibu Rudi. Bu Dini memberikan petunjuk kepada para petugas
pengangkut barang. Tangannya menunjuk-nunjuk untuk memperjelas
perintahnya. “Rudi dan Runi, kalian bisa pilih kamar kalian sendiri,”
terdengar suara Pak Heru, ayah Rudi. “Horeeeee!” sorak Rudi dan Runi
serempak. Selama ini Rudi selalu sekamar dengan Runi, kakak perempuannya
itu. Apartemen tempat tinggal mereka sebelumnya hanya memiliki 2 kamar.
Satu kamar untuk orang tua, satu kamar lagi untuk anak-anak. Kamar
anak-anak yang ditempati Rudi dan Runi dipisahkan oleh 2 meja belajar
dan lemari pakaian. “Aku pilih kamar yang menghadap kebun buah,” teriak
Runi dengan lantang. Runi sengaja memilih kamar yang menghadap kebun
buah. Runi sangat suka makan buah. Hmmm… Sebenarnya, Runi suka semua
jenis makanan.
Di
halaman samping rumah ini, ada pohon rambutan, mangga, jambu, jeruk,
manggis, dan sawo. “Aku pilih kamar yang dekat perpustakaan,” gumam Rudi
sambil berjalan pelan menuju kamar pilihannya. Rudi sangat suka
membaca. Ruang perpustakaan adalah ruangan favoritnya di rumah tua ini.
Rumah tua berlantai 2 ini sangat besar. Ada 17 kamar di rumah ini.
Di
tempat inilah tinggal seorang pria tua bertubuh kurus yang dikenal
sebagai Datuk. Datuk adalah kakek Bu Dini, ibu Rudi dan Runi. Umurnya
sudah mendekati 90 tahun. Dialah yang menempati kamar paling depan di
rumah besar itu. Selain kamar paling depan, semua tamu yang datang
menginap boleh memilih 16 kamar lainnya. Walaupun sudah tua, Datuk masih
sehat. Dia suka berjalan-jalan mengelilingi rumahnya yang besar.
Sebelum keluarga Pak Heru pindah ke rumah ini, Datuk ditemani oleh Bapak
dan Ibu Marno, sepasang suami istri. Mereka lebih akrab disapa dengan
nama Pak No dan Bu No. Pak No membantu membersihkan rumah dan merawat
tanaman. Bu No membantu memasak dan mengurus pakaian. Sebulan yang lalu,
Pak No pindah ke rumahnya sendiri. Rumah mungil Pak No letaknya tidak
jauh dari rumah Datuk. Setiap hari, Pak No dan Bu No datang untuk
membantu di rumah Datuk. Walaupun Pak No dan Bu No datang setiap hari,
Bu Dini tetap khawatir pada kesehatan kakeknya yang sudah tua itu. Bu
Dini ingin mengajak kakeknya tinggal bersama. Mereka harus memilih,
mengajak Datuk tinggal di apartemen mereka, atau mereka yang tinggal di
rumah Datuk. Akhirnya Bu Dini mengajak keluarganya pindah ke rumah tua
itu karena apartemen mereka terlalu sempit. “Cukup untuk hari ini. Kita
lanjutkan besok, ya,” seru Bu Dini. Tak terasa, malam pun tiba. Rudi
yang kelelahan segera menuju kamarnya. Dia membaringkan diri di tempat
tidur. Tak lama kemudian, Rudi dikagetkan oleh jeritan kakaknya. “Aaaaa!
Ada orang di luar jendelakuuuu!” jerit Runi. Rudi segera berlari menuju
kamar kakaknya.
Di
lorong, ia bertemu dengan ayah ibunya. Mereka semua terbirit-birit
berlari menuju kamar baru Runi. “Ada orang berambut panjang di luar.
Hiiii…. Aku takut. Jangan-jangan itu hantu,” kata Runi sambil memeluk
bantal. Bu Dini memeluk anaknya yang gemetar ketakutan itu. Runi
menangis tersedu-sedu dalam pelukan ibunya. Pak Heru segera keluar
membawa senter. Rudi melihat ke jendela di kamar kakaknya. Jendela itu
terbuka. Tirainya sedikit bergoyang tertiup angin. “Huhuhu… Aku mau
pindah kamar aja,” kata Runi di sela isak tangisnya. “Sudahlah, Nak.
Jangan menangis lagi, ya. Mungkin kamu melihat bayangan tirai,” hibur Bu
Dini. Tangis Runi malah terdengar makin keras. Makin banyak yang
memberi perhatian, makin kencang tangisannya. Kalau sudah seperti ini,
Rudi diam saja. Dulu, dia pernah mengatai kakaknya ini “anak cengeng”.
Jadinya Runi malah menangis sepanjang malam. Padahal mereka menempati
kamar yang sama. Rudi pun menyesal dan berjanji dalam hati tidak akan
mengatai kakaknya saat sedang menangis. “Runi, Ayah sudah temukan hantu
berambut panjangnya. Sini, kenalan dulu,” kata Pak Heru dari balik tirai
jendela.
Share This :

0 komentar